Kamis, 11 November 2010

makalah pterydophyta

MAKALAH
BOTANI TINGKAT RENDAH
PTERIDOPHYTA

KELOMPOK 5
OLEH :
1. Sri Purwati
2. Rufiati
3. Siti Khoiriyah
4. Siti Fatimatuz Zuhriah
5. M. Faishol Maulana
6. Fahrudin Ahmad
PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI RONGGOLAWE TUBAN
2009
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “Botani Tubuhan Rendah”, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini memuat tentang “Pteridophyta” yang sangat berbahaya bagi kesehatan seseorang. Walaupun makalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing Dra. Tbhita yang telah membimbing penyusun agar dapat mengerti tentang bagaimana cara kami menyusun karya tulis ilmiah.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.
  


Tuban, Oktober 2010


Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………..         2
DAFTAR ISI…………………………………………………………….……         3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1   LATAR BELAKANG……………………………………………………         4
1.2   RUMUSAN MASALAH…………………………………………………        5
1.3   TUJUAN PENULISAN………………………………………………….         5
1.4   MANFAAT PENULISAN……………………………………………….         5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 MORFOLOGI…………………………………………………………….        6
      2.1.1 CIRCIRI……………………………………………………………..       6
      2.1.2 BAGIAN-BAGIAN TUMBUHAN PAKU………………………… 6
2.2 KLASIFIKASI……………………………………………………………         8
2.3 DAUR HIDUP (METAGENESIS)………………………………………         9
2.4 METAGENESIS TUMBUHAN PAKU ………………………………..          10
2.5  MACAM PTERYDOPHITA (SPORA)……………………………….           11
2.6 MANFAAT…………………………….…………………………………         13
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN…………………………………………………………..          15
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………         16
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tumbuhan paku (atau paku-pakuan, Pteridophyta atau Filicophyta), adalah satu divisio tumbuhan yang telah memiliki sistem pembuluh sejati (kormus) tetapi tidak menghasilkan biji untuk reproduksinya. Alih-alih biji, kelompok tumbuhan ini masih menggunakan spora sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut dan fungi. Tumbuhan paku (Pteridophyta) adalah divisi dari kingdom Plantae yang anggotanya memiliki akar, batang, dan daun sejati, serta memiliki pembuluh pengangkut. Tumbuhan paku sering disebut juga dengan kormofita berspora karena berkaitan dengan adanya akar, batang, daun sejati, serta bereproduksi aseksual dengan spora. Tumbuhan paku juga disebut sebagai tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta) karena memiliki pembuluh pengangkut. Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering (gurun). Total spesies yang diketahui hampir 10.000 (diperkirakan 3000 di antaranya tumbuh di Indonesia), sebagian besar tumbuh di daerah tropika basah yang lembab. Tumbuhan ini cenderung tidak tahan dengan kondisi air yang terbatas, mungkin mengikuti perilaku moyangnya di zaman Karbon, yang juga dikenal sebagai masa keemasan tumbuhan paku karena merajai hutan-hutan di bumi. Serasah hutan tumbuhan pada zaman ini yang memfosil sekarang ditambang orang sebagai batu bara. Salah satu anggota dari Pteridophyta ialah kelas Lycopodiinae ( paku kawat atau paku rambat ). Merupakan tumbuhan liar di pinggir-pinggir jalan, semak belukar atau di hutan-hutan,sering memanjat di pohon. Tumbuh dari dataran rendah sampai pegunungan dari ketinggian 100 m sampai 2.000 m di atas permukaan laut.


1.2  Rumusan Masalah
Dari penjelasan diatas, maka dapat dirumuskan sebagai berikut :
Ø      Bagaimana morfologi/ciri-ciri dan bagian-bagian dari pteridophita / tumbuhan paku ?
Ø      Bagaimanakah klasifikasi dari pteridophita / tumbuhan paku ?
Ø      Bagaimana daur hidup pteridophita / tumbuhan paku ?
Ø      Bagaimana Metagenesis dari pterydophita / tumbuhan paku ?
Ø      Apakah macam-macam ptedirophyta di tinjau dari spora yang di hasilkan ?
Ø      Apakah manfaat pterydophita / tumbuhan paku
1.3  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah :
Ø      Untuk mengetahui morfologi/ciri-ciri dan bagian-bagian dari pteridophita / tumbuhan paku
Ø      Untuk mengetahui klasifikasi dari pteridophita / tumbuhan paku
Ø      Untuk mengetahui daur hidup pteridophita / tumbuhan paku
Ø      Untuk mengetahui metagenesis dari pteridophita / Metagenesis
Ø      Untuk mengetahui macam ptedirophyta di tinjau dari spora yang di hasilkan
Ø      Untuk mengetahui manfaat pteridophyta / tumbuhan paku
1.4 Manfaat Penulisan
Dengan penulisan ini diharapkan agar pembaca memiliki pengetahuan dan dapat memahami tentang macam-macam manfaat yang terkandung dalam tumbuhan paku. Selain itu, diharapkan pembaca dapat memanfaatkan tumbuhan paku dengan benar agar dapat berguna bagi kehidupan manusia.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Morfologi
Bentuk tumbuhan paku bermacam-macam, ada yang berupa pohon (paku pohon, biasanya tidak bercabang), epifit, mengapung di air, hidrofit, tetapi biasanya berupa terna denganrizoma yang menjalar di tanah atau humus dan ental (bahasa Inggris frond) yang menyanggadaun dengan ukuran yang bervariasi (sampai 6 m). Ental yang masih muda selalu menggulung (seperti gagang biola) dan menjadi satu ciri khas tumbuhan paku. Daun pakis hampir selalu daun majemuk. Sering dijumpai tumbuhan paku mendominasi vegetasi suatu tempat sehingga membentuk belukar yang luas dan menekan tumbuhan yang lain.
2.1.1 Ciri-ciri Pterydophyta
a. Memiliki jaringan pengangkut (xilem dan floem)
b. Secara umum telah dapat dibedakan akar, batang dan daunnya.
c. Alat reproduksi aseksual berupa spora.
d. Spora dihasilkan oleh sporofil (daun fertil).
e. Mengalami metagenesis (Fase sporofit lebih dominan dari fase gametofit)
2.1.2  Bagian – Bagian Tumbuhan Paku
1. Akar
Akar tumbuhan paku merupakan akar sesungguhnya karena sel-sel akarnya sudah terdiferensiasi menjadi :
a. kuit luar (epidermis)
b.      kulit dalam (korteks), dan
c. silinder pusat, terdpat buluh pengangkut brupa xylem yan dikelilini oleh floe.
Tumbuhan paku mempunyai sistem perakaran serabut.

2. Batang
Pada sebagian besar jenis paku, batangnya terdapat di dalam tanah yang dinamakan ripang (rhizome). Jika muncul ke permukaan tanah, batangnya sangat pendek sekitar 0.5 m. Namun, ada beberapa batang pohon paku yang tingginya mencapai 5 m atau lebih, misalnya cythea sp. Pada batang, terdapat pembuluh pengangkut berup xilem dikelilingi floem.


3. Daun
Macam-Macam Daun
 - daun yang kecil-kecil disebut Mikrofil
- daun yang besar-besar disebut Makrofil dan telah mempunyai daging daun (Mesofil)
- daun yang khusus untuk asimilasi disebut Tropofil
- daun yang khusus menghasilkan spora disebut Sporofil

2.2 Klasifikasi
}        Klasifikasi ilmiah
}        Kerajaan:       Plantae
Divisi  :           Pteridophyta
Kelas  :          
Psilotopsida
                       
Equisetopsida
                       
Marattiopsida
                       
Polypodiopsida
Ø      Psilotophyta mempunyai dua genera. Psilotum sp tersebar luas di daerah tropik dan subtropik, mempunyai ranting dikotom, tidak memiliki akar dan daun, pengganti akar berupa rizoma diselubungi rambut-rambut yang dikenal rizoid. Contohnya: Psilotum.
Ø      Lycopodophyta memiliki daun berupa mikrofil yang tersusun secara spiral. Lycopodophyta memiliki sporangium yang muncul dari ketiak daun dan berkumpul membentuk strobilus (bentuk seperti pentungan kayu). Kebanyakan hidup menempel pada tumbuhan lain sebagai epifit. Contohnya Lycopodium sp dan Selaginella sp.
Ø      Equisetophyta sering disebut paku ekor kuda, bersifat homospora, mempunyai akar; batang; daun sejati, batangnya keras karena dinding sel mengandung silika. Mereka biasa tumbuh di tempat yang lembap. Daun berukuran menengah, bersisik, dan tersusun melingkar pada setiap buku. Rizom dapat menghasilkan batang yang menjulang ke atas hingga 1,3 meter, dan pada ujung batang terdapat strobilus berwarna kekuning-kuningan. Contohnya Equisetum debile (paku ekor kuda).
Ø       Pteridophyta (paku sejati) umumnya tumbuh di darat pada daerah tropis dan subtropis. Mereka memiliki makrofil dengan tulang-tulang daun dan daging daun (mesofil). Tinggi tumbuhan ini bervariasi mulai dari terpendek hingga yang tinggi menjulang seperti pohon. Contohnya: Adiantum cuneatum (paku suplir untuk hiasan), Marsilea crenata (semanggi untuk sayuran), Asplenium nidus (paku sarang burung), Pletycerium bifurcatum (paku tanduk rusa), Alsophilla glauce (paku tiang).
2.3 Daur hidup (metagenesis)
Tumbuhan paku mengalami metagenesis atau pergiliran keturunan antara generasi sporofit dan generasi gametofit.
Generasi Saprofit merupakan tumbuhan paku itu sendiri yang dapat menghasilkan spora. Spora dihasilkan oleh struktur daun khusus yang disebut sporofil. Spora tersebut mudah menyebar diterbang angin, dan spora yang jatuh di tempat yang sesuai akan tumbuh menjadi tumbuhan baru yaitu berupa protalium.
Generasi Gametofit merupakan tumbuhan penghasil gamet. Generasi gametofit ditandai dengan adanya protalium yaitu tumbuhan paku baru yang berbentuk seperti jantung, berwarna hijau, dan melekat pada substrat dengan rizoidnya. Generasi gametofit tidak berlangsung lama karena biasanya protaliumnya berukuran kecil dan tidak berumur panjang. Di dalam protalium terdapat suatu gametangium sehingga dapat membentuk anteridium yaitu alat kelamin jantan yang akan menghasilkan sperma, dan arkegonium yaitu alat kelamin betina yang akan menghasilkan sel telur. Jika terjadi pertemuan antara sperma dengan sel telur maka akan terbentuk zigot dan akan tumbuh menjadi tumbuhan paku baru.



2.4  Metagenesis Tumbuhan Paku
Ø      Arkegonium (n)
Ø      Spora (n)
Ø      Mitosis
Ø      Protalus atau protalium (n)
Ø      (gametofit)
Ø      Anteridium (n)
Ø      Sel telur (n)
Ø      Spermatozoid (n)
Ø      Zigot (2n)
Ø      Tumbuhan paku (2n)
Ø      (sporofit)
Ø      Sporangium
Ø      Spora (n)
Ø      Meiosis

 
Metagenesis Pterydophyta                    Reproduksi Pterydophyta
2.5 Macam pteridophyta (spora)
a)                  Paku Homospora (isospora)
menghasilkan satu jenis spora saja, misalnya paku kawat (Lycopodium clavatum).
Homospora adalah genus dari ngengat dalam keluarga Geometridae .



b)                  Paku Heterospora (anisospora)
menghasilkan dua jenis spora yaitu: mikrospora (jantan) dan makrospora (betina), misalnya paku rane (Selaginella wildenowii) dan semanggi (Marsilea crenata).


C. Peralihan antara homospora dan heterospora
menghasilkan spora yang bentuk dan ukurannya sama (isospora) tetapi sebagian jantan dan sebagian betina (heterospora), misalnya paku ekor kuda (Equisetum debile)


2.6 Manfaat
Sebagai tanaman hiasan :
- Platycerium nidus (paku tanduk rusa)
- Asplenium nidus (paku sarang burung)
- Adiantum cuneatum (suplir)
- Selaginella wildenowii (paku rane)
Sebagai bahan penghasil obat-obatan :
- Asipidium filix-mas
- Lycopodium clavatum
Sebagai sayuran :
- Marsilea crenata (semanggi)
- Salvinia natans (paku sampan = kiambang)
Sebagai pupuk hijau :
- Azolla pinnata >> bersimbiosis dengan anabaena azollae (gangang
biru)
Sebagai pelindugn tanaman di persemaian :
- Gleichenia linearis
Sebagai sumber bahan baku pembentukan batu bara :
- Tumbuhan paku yang sudah mati pada zaman purba.



















BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

      Pteridophyta sering dikenl msyarakat umum sebagai tumbuhan paku. Tumbuhan paku umunya hidup di daratan pada tempat-tempat yang basah atau lembap. Hanya beberapa jenis saja yang hidup di air. Tumbuhan ini banyak di jumpai di daerah tropis hingga daerah beriklim sedang.
Tumbuhan paku adalah satu divisio tumbuhan yang telah memiliki sistem pembuluh sejati (kormus) tetapi tidak menghasilkan biji untuk reproduksinya. Tumbuhan paku mendominasi vegetasi suatu tempat sehingga membentuk belukar yang luas dan menekan tumbuhan yang lain. Tumbuhan paku yang mudah kita lihat merupakan bentuk fase sporofit karena menghasilkan spora. Tumbuhan paku juga disebut sebagai tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta) karena memiliki pembuluh pengangkut yaitu xilem dan floem. Xilem adalah pembuluh pengangkut senyawa anorganik berupa air dan mineral dari akar ke seluruh bagian tumbuhan. Floem adalah pembuluh pengangkut nutrien organik hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tubuh tumbuhan.





Daftar pustaka

Sembiring, L. dkk. 2005. Biologi. Jilid 1. Jakarta: Sunda Kelapa Pustaka.
http://id.wikipedia.org/wiki/Tumbuhan_paku di akses tanggal 19 Oktober 2010
http://wapedia.mobi/id/Paku-pakuan di akses tanggal 20 Oktober 2010
http://theeiia-tialaras.blogspot.com/ di akses tanggal 20 Oktober 2010


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar